Senin, 21 Maret 2016

Sejarah Permainan Lompat Tali

Sejarah Permainan Tradisional Lompat Tali (Yeye)

Lompat tali atau “main karet” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali ini menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Permainan lompat tali dimainkan secara bersama-sama oleh 3 hingga 10 anak.
Kapan dan dari mana permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti. Namun, dari nama permainan itu sendiri dapat diduga bahwa permainan ini muncul di zaman penjajahan. Sebenarnya di daerah lain indonesia juga banyak di temukan permainan ini tapi dengan nama yang berbeda misal dengan nama Yeye, Tali Merdeka (Riau), Lompatan dan lain-lain.
Peralatan yang digunakan dalam permainan lompat tali sangat sederhana, yaitu karet gelang yang dijalin atau dirangkai hingga panjangnya mencapai ukuran yang dibutuhkan, biasanya sekitar 3 sampai 4 meter.
Cara bermain lompat tali sebagai berikut:
(http://infotegal.com)
  • Para pemain melakukan hompipah atau pingsut untuk menentukan dua orang pemain yang menjadi pemegang tali.
  • Kedua pemain yang menjadi pemegang tali melakukan pingsut untuk menentukan siapa yang akan mendapat giliran bermain terlebih dahulu jika ada pemain yang gagal melompat.
  • Kedua pemain yang menjadi pemegang tali perentang tali karet dan pemain harus melompatinya satu persatu. ketinggian karet mulai dari setinggi mata kaki, lalu naik ke lutut, paha, hingga pinggang. Pada tahap-tahap ketinggian ini, pemain harus melompat tanpa menyentuh tali karet. Jika ada pemain yang menyentuh tali karet ketika melompat, gilirannya bermain selesai dan ia harus menggantikan pemain yang memegang tali.
  • Posisi tali karet dinaikan ke dada, lalu dagu, telinga, ubun-ubun, tangan yang diangkat ke atas dengan kaki berjinjit. Pada tahap-tahap ketinggian ini, pemain boleh menyentuh tali karet ketika melompat, asalkan pemain dapat melewati tali dan tidak terjerat. Pemain juga diperbolehkan menggunakan berbagai gerakan untuk mempermudah lompatan, asalkan tidak memakai alat bantu.
  • Pemain yang tidak berhasil melompati tali karet harus menghentikan permainannya dan menggantikan posisi pemegang tali. Jika semua tanggap ketinggian telah berhasil diselesaikan oleh para pemain, tali karet kembali diturunkan dan permainan dimulai dari awal. Begitu seterusnya hingga para pemain memutuskan untuk mengakhiri permainan ini.
http://permata-nusantara.blogspot.com
Lompat tali mudah dimainkan, peralatan yang digunakan pun sederhana saja, tetapi permainan ini sarat akan manfaat.
Manfaat permainan lompat tali untuk anak-anak antara lain sebagai berikut:
  1. Memberikan kegembiraan pada anak
  2. Melatih semangat kerja keras pada anak-anak untuk memenangkan permainan dengan melompati berbagai tahap lompatan tali
  3. Melatih kecermatan anak karena untuk dapat melompati tali (terutama pada posisi-posisi tinggi), kemampuaan anak untuk memperkirakan tinggi tali dan lompatan yang harus dilakukanya akan sanagat membantu keberhasilan anak melompati tali.
  4. Melatih motorik kasar anak yang sangat bermanfaat untuk membentuk otot yang padat, fisik yang kuat dan sehat, serta mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Permainan yang dilakukan dengan lompatan-lompatan ini juga bermanfaat menghindarkan anak dari resiko mengalami obesitas. 
  5. Melatih keberanian anak dalam mengasah kemampuanya untuk mengambil keputusan. Hal ini karena untuk melompat tali dengan ketinggian tertentu membutuhkan keberanian untuk melakukannya. Anak juga harus mengambil keputusan apakah akan melompat atau tidak. 
  6. Menciptakan emosi positif bagi anak. sebab, ketika bermain lompat tali, anak bergerak, berteriak, dan tertawa. Gerakan, tawa, dan teriakan ini sangat bermanfaat untuk membuat emosi anak menjadi positif. 
  7. Menjadi media bagi anak untuk bersosialisasi. Dari sosialisasi permainan ini, anak belajar bersabar, menaati peraturan, berempati, dan menempatkan diri dengan baik diantara teman-temanya. 
  8. Membangun sportifitas anak. Pembelajaran melalui sportifitas ini di peroleh anak ketika harus menggantikan posisi pemegang tali ketika ia gagal melompati tali.

Sejarah Tenis Meja

Sejarah Tenis Meja


Sejarah Tenis MejaSejarah tenis meja merupakan salah satu sejarah olahraga yang saling menerkaitkan antara Asia dan Eropa. Pada mulanya tenis meja dianggap sebagai permainan yang lucu dan kurang menarik,karena mulanya seorang gadis dan seorang pemuda memukul bola plastic kecil melintas di atas net ( yang selanjutnya disebut pingpong). Pada perkembangan selanjutnya dari hasil latihan sampai terampil dalam bermain bola pingpong itu dapatlah ditentukan bahwa tubuh merupakan subjek yang harus melewati latihan khusus dan intensif, serta harus mampu memukul bola lebih dari 100 mph dan harus dapat menguasai bola itu sendiri.
Sejarah Tenis Meja

Sejarah Tenis Meja

Pada saat tenis meja merupakan ukuran olahraga prestasi internasional, dan kemudian selama 30 tahun terakhir menjadi ukuran prestasi nasional. Pertandingan tenis meja diselenggarakan di London tahun 1926, yang semata-mata merupakan kompetisi antara 7 negara dan selanjutnya diikuti oleh 34 negara. Tahun 1930 Inggris mampu mendapat unggulan, yakni Fred Derry yang memenangkan kejuaran tunggal Wimbolden pada tahun 1928 – 1929. Sukses yang diperoleh Eropa Timur, membuat nama Viktor Barna dari Richard Bergmann menjadi tokoh legendaris.
Barna sendiri menjadi raja tenis meja selama 16 tahun dalam nomor tunggal dan ganda. Setelah Perang Dunia II, tenis meja mengundang simpati dan mempesonakan setengah daribenua Eropa. Hungaria dan Cekoslawakia menghasilkan pemain–pemain kaliber dunia serta memperkenalkan teknik permainan yang maju dan lebih maju.
Tenis meja, atau ping pong (sebuah merek dagang), adalah suatu olahraga bat yang dimainkan oleh dua orang (untuk tunggal) atau dua pasangan (untuk ganda) yang berlawanan. Di Republik Rakyat Tiongkok, nama resmi olahraga ini ialah “bola ping pong” (Tionghoa : 乒乓球; Pinyin : pīngpāng qiú). Permainan ini menggunakan bat yang terbuat dari papan kayu yang dilapisi karet yang biasa disebut bet, sebuah bola pingpong dan lapangan permainan yang berbentuk meja. Induk Olahraga tenis meja di Indonesia adalah PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia) dan di dunia adalah ITTF (International Table Tennis Federation) yang anggotanya mencapai 217 negara dan PTMSI tercatat sebagai Anggota ITTF sejak tahun 1961.
[Baca juga Sejarah Bola Basket]

Peralatan Permainan – Sejarah Tenis Meja

1. Bat
Ukuran, berat dan bentuk bat tidak ditentukan, tetapi daun bat harus datar dan kaku. Daun bat minimal 85 % terbuat dari kayu diukur dari ketebalannya; lapisan perekat di dalam kayu dapat diperkuat dengan bahan yang berserat seperti serat karbon (carbon fibre) atau serat kaca (glass fibre) atau bahan kertas yang dipadatkan, namun bahan tersebut tidak boleh lebih dari 7,5 % dari total ketebalan atau berukuran 0,35 mm, yang lebih tipis yang dipakai sebagai acuan.
Sisi daun bat yang digunakan untuk memukul bola harus ditutupi oleh karet licin/halus maupun bintik, bila menggunakan karet bintik yang menonjol ke luar (tanpa spons) maka ketebalan karet termasuk lapisan lem perekat tidak boleh lebih dari 2.0 mm, atau jika menggunakan karet lapis (karet + spons) dengan bintik di dalamnya menghadap keluar atau ke dalam maka ketebalannya tidak boleh lebih dari 4.0 mm sudah termasuk dengan lem perekat. 04. Pada permulaan permainan dan kapan saja pemain menukar batnya selama permainan berlangsung, seorang pemain harus menunjukkan batnya pada lawannya dan pada wasit dan harus mengijinkan wasit dan lawannya untuk memeriksa/ mencobanya.
2. Bola
Bola tenis meja berdiameter 40 mm berat 2,7 gram. Biasanya berwarana putih atau oranye dan terbuat dari bahan selulosa yang ringan. Pantulan bola yang baik apabila dijatuhkan dari ketinggian 30,5 cm akan menghasilkan ketinggian pantulan pertama antara 23–26 cm. Pada bola tenis meja biasanya ada tanda bintang dari bintang 1 hingga bintang 3, dan tanda bintang 3 inilah yang menunjukan kualitas tertinggi dari bola tersebut dan biasanya digunakan dalam turnamen-turnamen resmi.
Satu lagi peralatan dalam tenis meja yaitu Meja dan net. Nach untuk spesifikasi meja dan net bisa melihat gambar di atas lengkap dengan ukurannya.
Demikian mengenai sejarah tenis meja. Anda mungkin pecinta tenis meja tentunya akan lebih mengasyikkan jika telah mengetahui sejarahnya. Semoga bermanfaat.

Sejarah Tradisional Indonesia "Bakiak"

Permainan Tradisional 'Bakiak'

SEKILAS TENTANG BAKIAK

Bakiak adalah salah satu permainan tradisional. Bahannya dibuat dari kayu panjang seperti seluncur es yang sudah dihaluskan (diamplas, red:banjar) dan diberi beberapa selop diatasnya, biasanya untuk 2-3 orang. Memainkan bakiak biasanya secara berkelompok atau tim, yang masing-masing tim berlomba untuk sampai ke finish. Permainan ini menguji ketangkasan, kepemimpinan, kerja sama, kreatifitas, wawasan serta kejujuran.


SEJARAH BAKIAK
"Bakiak" sebenarnya permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Anak-anak dari Sumatera Barat yang dilahirkan hingga pertengahan tahun 1970-an, sering dan biasa memainkan bakiak atau terompah panjang ini. Bakiak panjang atau yang sering disebut terompa galuak di Sumatera Barat adalah terompah deret dari papan bertali karet yang panjang. Sepasang 'bakiak' minimal memiliki tiga pasang sandal atau dimainkan tiga anak. Biasanya juga untuk diperlombakan di tingkat kecamatan dan kelurahan pada 17 Agustusan.
Berbeda halnya dengan daerah Sumatera Barat. Bakiak merupakan sebutan di Jawa Tengah untuk sejenis sandal yang telapaknya terbuat dari kayu yang ringan dengan pengikat kaki terbuat dari ban bekas yang dipaku dikedua sisinya. Di Jawa Timur dikenal dengan sebutan Bangkiak. Sangat populer karena murah terutama dimasa ekonomi susah sedangkan dengan bahan kayu dan ban bekas membuat bakiak tahan air serta suhu panas dan dingin. Diperkirakan bakiak diinspirasikan oleh Jepang yang sudah memakai telapak kayu untuk Geisha-Geisha.
Geisha (bahasa Jepang:芸者 "seniman") adalah seniman-penghibur (entertainer) tradisional Jepang. Kata geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu tersebut. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak. "Geisha," yang dilafalkan dalam bahasa Inggris:/ˈgeɪ ʃa/ ("gei-" - "may"). Di Kansai, istilah "geiko" (芸妓) dan geisha pemula "maiko" (舞妓) yang digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah "maiko" hanya digunakan di distrik Kyoto. Pengucapan ˈgi ʃa ("gei-" - "key") atau "gadis geisha" umum digunakan pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang, mengandung konotasi prostitusi. Di Republik Rakyat Cina, kata yang digunakan adalah "yi ji," yang pengucapannya mirip dengan "ji" dalam bahasa Mandarin yang berarti prostitusi. Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha ("Okiya") membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan. Berikut adalah gambar alas kaki yang sering digunakan Geisha-Geisha Jepang.

MODIFIKASI BAKIAK YAITU BAKIAK TALI
Bakiak biasanya berupa kayu panjang mirip seluncur yang diberi beberapa selop, akan tetapi kali ini akan diberikan sesuatu yang sedikit berbeda yaitu bakiak tali. Dimana untuk selop tersebut digantikan dengan tali, yang panjangnya diperkirakan sampai ke tangan (sebagai pegangan). Berikut adalah cara pengolahan alat bakiak tali.
Bahan:
• 2 buah Kayu panjang dan tebal
• 1 gulungan tali tambang ukuran kecil
• 12 buah paku ukuran kecil
• Beberapa kaleng kecil cat warna warni
Alat:
• Palu
• Gunting
• Gergaji
• Mesin kataman (red,Banjar)
• Kuas untuk mencat
• Mistar ukur
• Pensil
Cara membuat bakiak tali
1. Pembuatan Papan
• 2 buah kayu panjang dan lebar diukur dengan mistar dan diberikan tanda dengan pensil, dengan perkiraan panjang 1,5 m dan lebar 15 cm.
• 2 buah kayu yang sudah diberikan tanda dengan pensil tadi, dipotong dengan menggunakan gergaji sehingga membentuk seperti papan seluncur.
• Setelah 2 buah papan terbentuk, maka haluskan dengan menggunakan mesin kataman (red,Banjar). Hal ini dimaksudkan agar papan menjadi halus sehingga tidak menciderai atau mengakibatkan kesuban (red, Banjar).
2. Pembuatan Tali
• Tali yang sudah disediakan diukur dengan menggunakan penggaris sepanjang +/- 1,5 m, kemudian potong dengan gunting.
• Kemudian lakukan hal yang sama berturut-turut hingga menghasilkan tali sebanyak 6 buah.
3. Pembuatan Bakiak Tali
• 1 buah papan yang sudah jadi tadi, diletakkan 3 tali disisinya dan berikan berikan masing-masing jarak +/- 35 cm.
• Untuk menancapkan tali pada papan, perhatikan cara berikut:
 Untuk merekatkan tali pada sisi papan, diberi paku di atasnya. Dan untuk memastikan tali menancap dengan kuat, belokkan lagi paku ke arah sisi papan sehingga tali terkunci dengan paku.
 Lakukan hal yang sama pada sisi yang berlawanan.
 Tali akan terbentuk seperti tali kendali pada kuda.
• Lakukan hal yang tadi pada kedua sisa tali, dengan jarak yang sudah ditentukan sebelumnya.
• Untuk fisnishing, pada papan bisa dikreasikan dengan cat warna sehingga papan berkesan lebih menarik.
• Lakukan pembuatan bakiak tali pada papan satunya sampai ke tahap finishing, sehingga menjadi sepasang layaknya sandal.
• Bakiak tali siap untuk digunakan.
• Selamat mencoba 

Cara Pakai Bakiak Tali
 Bakiak dipakai layaknya alas kaki oleh 3 orang pemain (dalam 1 grup)
 Letakkan masing-masing kaki dibawah tali, kemudian tali yang panjang dijadikan pegangan (seperti naik kuda).
 Untuk dapat melangkah, tali di bagian tangan kiri dan kaki kiri harus secara bersamaan diangkat untuk bisa melangkahkan kaki kiri, begitu juga sebaliknya dengan melangkahkan kaki kanan. Apa bila tali tidak diangkat, maka tidak akan bisa melangkah. Agar dapat berjalan cepat dan tidak terjatuh, diperlukan kekompakan antara pemain dalam satu grup. Supaya grup tetap kompak, para pemain sepakat mulai mengangkat kaki kanan tau kiri dulu. Selanjutnya, mereka akan berjalan sambil memberi komando pada langkah mereka: “Kanan! Kiri! Kanan! Kiri!....”
 Begitulah selanjutnya sampai ke garis finish.
 Grup mana yang lebih cepat, maka merekalah pemenangnya.
 Selamat bermain 

dibawah ini adalah foto ketika persiapan perlombaan bakiak di MAN 2 Kandangan, hahay...

Minggu, 20 Maret 2016

Permainan Tarik Tambang


Tarik Tambang Adalah Sejarah Lomba 17 Agustusan

Ketika kita memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus disetiap sektor desa biasanya dan kebanyakan akan mengadakan perlombaan. Banyak sekali perlombaan diwaktu ini seperti pecah air, kelereng, makan kerupuk, tarik tambang, dan lainnya. Kali ini Olx game akan sedikit memberikan informasi tentang lomba Tarik Tambang yang memiliki sejarah sendiri sebagai lomba yang tidak bisa dilupakan.

Banyak versi tentang latar belakang lomba tarik tambang ini, namun OXL game ingin mencoba untuk memberikan salah satu argumentasi dari pejuang yang masih hidup sampai saat ini. Berawal dari jalan-jalan di suatu desa "sensor" ketika acara pentas seni Agustusan. Tidak disengaja yang sedang bicara diatas panggung yaitu sesepuh desa tersebut. Belau mengatakan tentang sejarah tarik tambang dan kenapa kita harus tidak melupakan lomba itu di setiap memperingati hari Kemerdekaan Indonesia.

Latar belakang Tarik Tambang

Jaman dahulu warga Indonesia saat penjajahan Belanda menggunakan tali tambang yang besar dalam pekerjaan mereka. Ketika ingin menarik benda berat seperti batu, pasir, dan lainnya warga Indonesia menggunakan tali tambang yang ditarik bersama-sama. Dengan perkembangan jaman waktu itu dan kurangnya hiburan bagi para penjajah maka ini dibuat menjadi suatu lomba hiburan yang pesertanya bisa antara warga Indonesia, antara Pribumi dan Belanda, bisa juga antar prajurit Belanda. Intinya yang berawal dari teknik bekerja dijadikan sebagai lomba untuk hiburan. Ini tutur beliau saat berpidato tentang kemerdekaan, mungkin banyak juga versi lainnya yang anda ketahui. Namun yang pasti jika perlombaan ini baik untuk mengingat jasa para pahlawan 45, kenapa tidak kita lakukan. Apalagi ini akan membuat kita akan selalu ingat hari Kemerdekaan dan selalu ikut memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia tercinta.

Cara Main:
  1. Persiapkan kedua regu untuk menempati posisinya yang telah disediakan panitia
  2. Persiapan untuk menarik tali
  3. Peluit dibunyikan
  4. Saling tarik-menarik
  5. Peserta yang melewati batas adalah yang kalah

Hal apa saja yang bermanfaat ketika tarik tambang?
  • Melatih kekompakan team
  • Melatih kepercayaan pada teman
  • Melatih kekuatan dan tanggungjawab diri sendiri
  • Bersosial kepada orang lain
  • Dan yang terpenting selalu menumbuhkan rasa cinta tanah air Indonesia

Tips Bermain
  • Pegang tali seerat mungkin
  • Tapakan kaki semapan mungkin di tanah / lantai
  • Bagian belakang, depan dan tengah pilih yang terkuat
  • Beri aba-aba ketika menarik
  • Tarik dengan cepat dan kompak bersamaan
  • Paling belakang kaitkan tali pada tubuh
  • Beri sentakan dan langsung tarik kuat
  • Tips lainnya yaitu ulur tali ketika saling tarik. Ketika lawan kaget karena menarik tali yang tidak erat, maka gantian dari team anda memberi sentakan dan tarikan yang kuat dengan terus menerus
  • Tarik dengan bantuan kaki melangkah ke belakang, jangan hanya menggunakan tangan saja
  • Doa dulu sebelum bertanding

Alat yang dibutuhkan untuk mengadakan lomba tarik tambang
  1. Tali tambang, sebagai tali yang ditarik
  2. Rafia, sebagai pembatas regu A dan B
  3. Peluit, untuk penanda start dan finish
  4. Alat tulis, untuk mencatat pemenang
  5. Wasit
  6. Pemaian, semakin banyak pemain akan semakin ramai

Akan terlihat lebih seru jika permainan Tarik Tambang ini ditambah dengan oli atau sabun agar tali terasa licin dan diamainkan di area yang berlumpur. Pastinya sporter yang melihat juga tidak akan tinggal diam ketika menikmati perlombaan ini.

Ilustrasi Dengan Gambar
Sekarang mali kita lihat langkah lomba tarik tambang menggunakan gambar dibawah ini:

alat tulis untuk pencatatan lomba
 1. Alat tulis untuk pencatatan hasil lomba

peluit untuk permainan
2. Peluit sebagai penanda permainan balap karung 

rafia untuk tarik tambang
 3. Rafia untuk batas antar lawan 
tali tambang untuk lomba tarik tambang
4. Tali tambang untuk alat yang ditarik

Sekarang bagaimana cara bermain dan siapa saja permainan tarik tambang ini?

aparat juga main tarik tambang

anak kecil main tarik tambang

lomba tarik tambang bapak bapak

tari tambang ibu-ibu


Bonus Gambar Lomba Tarik Tambang Yang Unik

tarik tambang dengan prau karet

tarik tambang dengan motor

lomba tarik tambang dengan kapal

tarik tambang raksasa

tarik tambang traktor

tarik tambang underwater

tarik tambang lawan harimau

diving tarik tambang


Modern ini permainan tarik tambang sangat diminati oleh banyak kalangan terbukti dengan antusiasnya para gadis remaja cantik yang mengikuti lomba ini. Mereka tidak takut akan panas dan rusaknya kulit tangan. Mereka hanya berfikir bagaimana untuk bersenang-senang dan berpartisipisasi dalam suatu kegiatan sosial:

cewek cantik seksi main tarik tambang

gadis bule main tarik tambang

tarik tambang antar cewek seksi

cewek cantik ikut lomba tarik tambang

lomba tarik tambang antar gadis seksi

Jika yang main seperti mereka ini pasti para bapak-bapak dijamin tidak ada yang ijin untuk ikut berpartisipasi lomba agustusan di desa anda. Hehehehe......

Demikian sekilas tentang perlombaan tarik tambang yang ada setiap Agustusan untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Semoga permainan ini akan tersu ada untuk mengenang jasa para pahlawan perjuangan dan pastinya menumbukan rasa cinta Indonesia sejak sedini mungkin.

Sejarah Egrang

Permainan Tradisional, Warisan Sejarah yang Hampir Punah


tahta


         Indonesia kaya akan budaya, dari 33 provinsi yang tersebar di Indonesia, tiap-tiap provinsi itu memiliki kebudayaan yang berbeda-beda.  Kebudayaan Indonesia banyak meliputi berbagai macam hal, meliputi kesenian, permainan tradisional, bahasa, pakaian adat (suku), dll. Dengan demikian, Indonesia mempunyai jati diri yang beragam tak hanya terpaku pada satu wilayah saja. Menurut Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi: “kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah,” menjadi tolak ukur sejauh mana Indonesia mempunyai keberagaman budaya. Hal inilah yang menjadi kebanggaan Indonesia sebagai negara berkembang yaitu mempunyai keberagaman kebudayaan. Kebudayaan-kebudayaan inilah yang seyogianya harus dilestarikan dan dipertahankan oleh masyarakat karena tanpa kita sadari bahwa bila melestarikan kebudayaan Indonesia, berarti kita tidak melupakan sejarah.
            Tak banyak orang yang tahu bahwa keberagaman budaya Indonesia itu seolah-olah menjadi saksi di mana pada zaman dahulu para leluhur yang telah mendahului kita menjadi pemeran atau pun ‘boga lakon’ dari semua kejadian sejarah Indonesia. Sejarah mengatakan bahwa dengan bambu runcing, para pejuang terdahulu berjuang merebut harkat, martabat dan derajat bumi pertiwi ini menuju gerbang kemerdekaan. Para pejuang terdahulu berjuang mati-matian dengan semangat yang membara tanpa mengenal lelah memperjuangkan Indonesia.
            Bila peribahasa mengakatan, “Berakit-rakit dahulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” tepat untuk menggambarkan perjalanan Indonesia dari asalnya tertinggal di masa-masa kelam hingga kini berada pada era kemerdekaan atas hasil jerih payah ‘berakit-rakit’ para pahlawan.
            Salah satu keberagaman kebudayaan Indonesia yang menjadi warisan sejarah ialah permainan tradisional. Permainan-permainan tradisional yang dimiliki Indonesia berbeda-beda, relatif pada di mana letak daerahnya, jadi letak geografis suatu wilayah memengaruhi keberagaman permainan-permainan tradisional yang dimiliki oleh Indonesia. Permainan tradisional yang beberapa tahun terakhir jarang kita temui ialah dampak akan kemajuan zaman yang semakin hari semakin modern dan permainan tradisional ini mungkin kalah ‘pamor’ dengan permainan anak-anak zaman kini, akibatnya permainan-permainan ini kini hampir punah bahkan sangat sulit kita temui.
Bebentengan
            Bebentengan, salah satu permainan tradisional ini dulu sangat diminati oleh anak-anak untuk mengisi waktu libur atau hanya sekadar menghilangkan rasa penat. Bebentengan, di beberapa daerah sering kali dikenal sebagai rerebonan di daerah Jawa Barat, sedangkan di daerah lain juga dikenal dengan nama prisprisan, omer, jek-jekan. Bebentengan sendiri berasal dari kata benteng atau pertahanan. Kata bebentengan adalah Dwipurwa (pengulangan suku kata pertama) dengan memakai akhiran  an yang artinya menyerupai atau berbuat seperti atau bukan sebenarnya. Permainan bebentengan mempunyai relevansi dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dahulu. Pertahanan Indonesia terhadap Belanda menggunakan benteng yang akhirnya benteng tersebut dianalogikan terhadap kehidupan anak-anak lalu lahirlah istilah bebentengan untuk sebutan permainan tradisional ini. Menurut Yayat Sudaryat, Guru Besar Sastra Universitas Pasundan Bandung mengatakan bahwa permainan bebentengan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dahulu.
            Bebentengan sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dahulu. Jika bebentengan pada zaman itu sebagai strategi pertahanan Indonesia terhadap gempuran penjajah Belanda, maka pada zaman sekarang bebentengan sebagai permainan yang maksud permainannya tak jauh beda dengan zaman dahulu, yaitu mempertahankan pertahanan dari serangan musuh,” jelas Yayat.
Persiapan
            Awal mula permainan ini ialah anak-anak yang akan ikut bermain berkumpul di lapangan atau tanah kosong yang cukup luas, kira-kira seluas lapangan bulu tangkis. Kemudian anak-anak yang akan ikut bermain dibagi menjadi dua kelompok yang sama rata, bila kelompok pertama berjumlah empat orang maka kelompok kedua juga berjumlah empat orang. Biasanya pembagian kelompoknya dibagi dengan cara suit atau pun hom pim pah.
Peralatan
            Pada permainan bebentengan ini para pemain tidak memerlukan alat-alat khusus, cukup lahan kosong untuk menjadi pijakan dan batas antara kedua kubu kelompok masing-masing. Kedua kelompok membuat markas bebentengannya saling berjauhan, biasanya di sudut lapangan. Misalnya kelompok pertama di sudut barat maka kelompok yang kedua di sudut timur.
Peraturan
            Setiap personil pada kedua kubu harus menyentuh benteng. Hal ini menandakan bahwa status personil tersebut adalah baru. Kalau dia agak lama tidak menyentuh benteng, maka status personil tersebut akan disebut lamo. Personil yang berstatus lamo, dapat dikejar, diburu, dan ditawan oleh personil dari benteng lawan yang berstatus baru. Jika seorang lamo sedang berada atau berlari di luar benteng dapat menjadi tawanan lawan jika disentuh oleh personil dari benteng lawan yang berstatus baru.
            Personil yang menjadi tawanan akan berdiri bergandengan di dekat benteng lawan yang menawannya. Para tawanan tidak dapat lagi bebas memburu atau menyerang sampai mereka dapat dibebaskan. Para tawanan dapat dibebaskan oleh teman dari bentengnya dengan cara menyentuh teman-temannya yang menjadi tawanan tersebut.
Permainan
            Awal mula permainan ini dimulai dengan majunya atau menyerangnya dari salah satu personil tiap kubu salah satu benteng untuk menantang musuh permainannya. Personil dari lawan mainnya kemudian balik menyerang dan mengejar musuhnya. Dari sana para pemain yang maju saling mengejar dan menghindar satu sama lainnya. Jika seorang lamo yang maju kemudian ditangkap atau disentuh oleh lawan mainnya maka dia menjadi tawanan musuhnya.
            Seorang lamo berusaha mengejar dan menghindar dari lawan mainnya supaya tak jadi tawanan musuhnya dan para personil yang berada pada markas bentengnya dapat bergantian secara bergiliran untuk maju menyerang musuhnya. Demikian seterusnya sehingga terjadi saling kejar mengejar antar personil kedua benteng.
            Pada sela-sela permainan sering terjadi kehabisan personil karena ditawan dan bentengnya dikepung oleh lawannya. Lawan pengepung ini dapat membebaskan teman-temannya yang juga menjadi tawanan dan dijaga oleh personil di benteng lawannya. Setelah dibebaskan, para mantan tawanan ini dapat turut mengepung benteng lawannya. Sisa personil dari benteng yang terkepung dapat mengejar para pengepung yang berstatus lamo untuk mempertahankan bentengnya, atau balik mengirim penyerang ke benteng pengepung jika benteng para pengepung tidak menjaganya.
Akhir Permainan
            Satu kelompok dapat memengankan permainan jika salah satu personil mereka dapat menyentuh benteng lawan tanpa disentuh oleh lawan yang mempertahankan benteng yang diserang tersebut. Setelah ada yang menang dan kalah, maka permainan selesai dan dapat dimulai kembali permainan bebentengan tersebut dari awal.
 cinta
Egrang
            Permainan yang satu ini berbeda dengan permainan bebentengan yang konsep permainannya membutuhkan lahan kosong yang cukup luas, pemain yang cukup banyak dan mengandalkan kerjasama tim. Egrang yang permainannya cukup sulit dilakukan oleh orang awam atau bagi orang yang masih pemula untuk memainkannya. Permainan ini membutuhkan keseimbangan raga kita dalam memainkannya. Kenapa bisa begitu, karena si pemain harus berusaha menyeimbangkan berat dan tinggi tubuhnya dalam pijakan dua buah batang bambu yang menopang kedua kakinya untuk berjalan.
 Pemain
            Permainan egrang dapat dikategorikan sebagai permainan anak-anak. Pada umumnya permainan ini dilakukan dilakukan oleh anak laki-laki yang berusia 7-13 tahun.
Tempat dan Peralatan Permainan
            Permainan egrang ini tidak membutuhkan tempat (lapangan) yang khusus. Egrang dapat dimainkan di mana saja, asalkan di atas tanah. Jadi, dapat di tepi pantai, di tanah lapang atau di jalan. Peralatan yang digunakan adalah dua batang bambu bata (volo vatu) yang relatif lurus dan sudah tua dengan panjang masing-masing antara 1,5-3 meter. Cara membuatnya adalah sebagai berikut. Mula-mula bambu dipotong menjadi dua bagian yang panjangnya masing-masing sekitar 2½-3 meter. Setelah itu, dipotong lagi bambu yang lain menjadi dua bagian dengan ukuran masing-masing sekitar 20-30 cm untuk dijadikan pijakan kaki. Selanjutnya, salah satu ruas bambu yang berukuran panjang dilubangi untuk memasukkan bambu yang berukuran pendek. Setelah bambu untuk pijakan kaki terpasang, maka bambu tersebut siap untuk digunakan.
 Aturan Permainan
            Aturan permainan egrang dapat dibagi menjadi dua, yaitu perlombaan lari dan pertandingan untuk saling menjatuhkan dengan cara saling memukulkan kaki-kaki bambu. Perlombaan adu kecepatan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 7-11 tahun dengan jumlah 2-5 orang. Sedangkan, permainan untuk saling menjatuhkan lawan biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berusia antara 11-13 tahun dengan menggunakan sistem kompetisi.
Jalannya Permainan
            Apabila permainan hanya berupa adu kecepatan (lomba lari), maka diawali dengan berdirinya 3-4 pemain di garis start sambil menaiki bambu masing-masing. Bagi anak-anak yang kurang tinggi atau baru belajar bermain egrang, mereka dapat menaikinya dari tempat yang agak tinggi atau menggunakan tangga dan baru berjalan ke arah garis start. Apabila telah siap, orang lain yang tidak ikut bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, para pemain akan berlari menuju garis finish. Pemain yang lebih dahulu mencapai garis finish dinyatakan sebagai pemenangnya. Sedangkan, apabila permainan bertujuan untuk mengadu bambu masing-masing pemain, maka diawali dengan pemilihan dua orang pemain yang dilakukan secara musyawarah/mufakat.
            Setelah itu, mereka akan berdiri berhadapan. Apabila telah siap, peserta lain yang belum mendapat giliran bermain akan memberikan aba-aba untuk segera memulai permainan. Mendengar aba-aba itu, kedua pemain akan mulai mengadukan bambu-bambu yang mereka naiki. Pemain yang dapat menjatuhkan lawan dari bambu yang dinaikinya dinyatakan sebagai pemenangnya. Permainan ini cukup populer, apalagi ketika banyak diadakan pelbagai pagelaran perlombaan 17 Agustus-an tiap tahun di berbagai daerah di Indonesia.
Nilai Budaya
            Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang adalah kerja keras, keuletan, dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan lawannya. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan alat yang digunakan untuk berjalan yang memerlukan keuletan dan ketekunan agar seimbang dan mudah digunakan untuk berjalan. Dan, nilai sportivitas tercermin tidak hanya dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang saat berlangsungnya permainan, tetapi juga mau menerima kekalahan dengan lapang dada.

Sejarah Sepak Takraw


Sejarah Perkembangan Sepak Takraw di Indonesia

Logo PSTI (Persatuan Sepak Takraw Indonesia).
Menurut sejarah perkembangannya, Sepak Takraw berasal dari olahraga tradisional Indonesia, yaitu : Sepak Raga. Daerah-daerah di Indonesia yang semula mengembangkan permainan ini adalah : Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan.

Semula permainan Sepak raga dimainkan oleh sekelompok bangsawan di daerah-daerah tersebut, kemudian berkembang menjadi permainan rakyat. Sepak raga dimainkan 6 sampai 9 orang secara melingkar di suatu tempat terbuka, sebagai hiburan dan pengisi waktu luang dikala orang menunggu waktu senja.

Beraneka ragam nama jenis permainan Sepak takraw awalnya, seperti di Riau dikenal dengan nama Rago Tinggi, di Bengkulu bernama Cepak, di Sumatera dan Jambi dengan nama Sepak rago, sedang di Sulawesi Selatan bernama Marraga-Akraga.

Ada pendapat bahwa Sepak raga berasal dari daerah Sulawesi Selatan, tetapi hal ini diragukan karena pada saat yang bersamaan daerah-daerah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat juga mengembangkan permainan ini. Ketiga daerah tersebut memang sebagai penghasil rotan yang merupakan bahan baku utama untuk membuat bola takraw. Namun memang pada
pengembangan olahraga Sepak raga selanjutnya, Sulawesi Selatan adalah merupakan daerah yang lebih maju dalam memperkenalkan teknik-teknik sepakan dan aturan-aturan permainan olahraga ini, terutama dengan seorang tokohnya yang bernama : Abdul Rahman Daeng Palalo.


Di Sulawesi Selatan sejak awal sudah diperkenalkan macam-macam sepakan, yaitu :

1. Anrong Sempa’, yaitu sepakan yang khusus menggunakan kaki saja. Sepakan ini terbagi
menjadi :
  • Sempa’ Sarring, yaitu sepakan keras/tinggi.
  • Sempa’ Biasa, yaitu sepakan biasa tidak begitu keras, tingginya 3 meter.
  • Sempa’ Ca’di-Ca’di, yaitu sepakan kecil/perlahan-lahan.
2. Ana’ Sempa’, yaitu sepakan dengan menggunakan bagian-bagian badan selain kaki misalnya : tangan, lengan, siku, kepala, perut, bahu, paha, lutut dan lain-lainnya.

Orang-orang Sulawesi Selatan yang terkenal dengan para pelaut Bugis/Makassar yang memiliki keberanian mengarungi samudera luas, membawa permainan sepak raga ke negeri lain. Sewaktu berlabuh, sekedar untuk mengisi waktu senggang, mereka bermain sepak raga. Permainan ini kemudian diikuti penduduk setempat yang akhirnya berkembang sampai desa desa seperti halnya di : Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Irian Jaya.

Pada bulan September 1970 Tim Sepak raga Malaysia (PSM) di bawah pimpinan Encik Khir Johari mantan Menteri Perdagangan Malaysia beserta rombongan mengadakan kunjungan muhibah ke Indonesia. Selama kunjungan tersebut mereka mengadakan demonstrasi memperkenalkan permainan Sepak raga Jaring di beberapa kota, antara lain: Jakarta, Bandung dan Medan.

Kunjungan muhibah dari Tim Sepak raga Malaysia ini mendorong Indonesia untuk berpartisipasi terhadap permainan tersebut, mengingat permainan ini dasarnya dari permainan Sepak raga yang sudah ada di beberapa daerah di Indonesia. Kemudian melalui Rapat Kerja Direktorat Jenderal Olahraga dan Pemuda yang diikuti oleh para Asisten III Bidang Olahraga dan Pemuda, Kepala-kepala Kantor Pembinaan Olahraga Pendidikan, Keolahragaan, Kepemudaan dan Pendidikan Masyarakat seluruh Indonesia pada tanggal 29 September – 5 Oktober 1970 di Cipayung Bogor, Direktur Jenderal Olahraga dan Pemuda : Mayor Jenderal Supardi mengintruksikan agar permainan Sepak raga Jaring segera dikembangkan dan dibina di daerah-daerah di Indonesia.

Pada tanggal 16 Maret 1971 dibentuk suatu organisasi yang dinamakan “Persatuan Sepak raga Seluruh Indonesia” (PERSERASI) dengan Ketua Umum : Drs. M. Yunus Akbar, dan sebagai penasehat Mayor Jenderal Supardi (Direktur Jenderal Olahraga dan Pemuda), M.F. Siregar M.Sc. (Direktur Keolahragaan/Sekjen KONI Pusat) dan Soeworo (Wakil Sekjen KONI Pusat).

Semula PB. PERSERASI hanya didukung 4 Pengurus Daerah, yaitu : Sulawesi
Selatan, Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Utara.

Pada bulan April 1971 Indonesia juga mendapat kunjungan muhibah lagi dari Tim Sepak raga Singapura (PERSES) yang dipimpin oleh Encik Akhmad Ghazali mantan Anggota Parlemen Singapura, untuk melakukan demonstrasi dan pertandingan persahabatan di beberapa daerah di Indonesia.

Menjelang SEA Games yang diselenggarakan di Jakarta tahun 1979 PERSERASI diterima sebagai anggota KONI Pusat.

Pada tahun 1986 PERSERASI menyelenggarakan Konggres ke II di Jakarta. Salah satu keputusannya adalah terbentuk Pengurus Baru dan keputusan lainnya adalah nama Persatuan Sepak raga Seluruh Indonesia (PERSERASI) dirubah menjadi Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PERSETASI).

PB. PERSETASI periode 1987 – 1991 dipimpin oleh Ir. H. Marjoeni Warganegara sebagai Ketua Umum. Mulai tahun 1992 – 2000 PB.PERSETASI
dipimpin oleh : Prof. Dr. Beddu Amang, MA. (Kabulog). Sejak terpilihnya Beddu Amang, sepak takraw nasional mulai kelihatan gregetnya. Jajaran Bulog dengan Dolognya di berbagai daerah lalu menjadi bapak angkat olahraga ini. Bahkan kemudian mulai tahun 1998 dikembangkan pembinaan Sepak takraw Wanita dan Sepak Takraw Bulatan (Circle Games).

Pada Munas PB. PERSETASI yang dilaksanakan pada tanggal 22 – 30 Agustus 2006 bersamaan dengan Kejuaraan Nasional Antar Regu, hasil musyawarah disepakati semua Pengprov seluruh Indonesia salah satu keputusannya adalah nama “PERSETASI” dirubah
menjadi “PSTI (Persatuan Sepak Takraw Indonesia).

Sepak Takraw (jaring/kompetisi) mulai dipertandingkan secara nasional pada PON X tahun 1981 sampai sekarang untuk Putra. Pada PON X/1981 Sepak takraw baru dibina dan dikembangkan oleh 12 daerah (Pengda), sehingga pada PON X dan XI tidak perlu diadakan babak Pra PON atau babak kualifikasi.
Selanjutnya sejak PON ke XII diadakan babak Pra PON atau kualifikasi, berhubung Sepak takraw sudah dibina dan berkembang di seluruh
Indonesia kecuali Propinsi Maluku yang baru tahun 1996 membentuk Pengdanya.

Babak Kualifikasi PON XIV/1996 dan sebelumnya Sepak takraw diadakan di 4 wilayah, babak kuialifikasi yang dikaitkan dengan Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) PERSETASI diikuti oleh 26 daerah.

Sepak Takraw Wanita pada PON ke XIII dipertandingkan untuk eksibisi, baru pada PON ke IV/1996 di Jakarta dipertandingkan secara resmi dan diikuti oleh daerah : Riau, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan kalimantan Tengah. Sedang untuk Sepak takraw Bulatan (Circle Game) baru dipertandingkan secara resmi dalam PON ke XV tahun 2000 yang lalu di Surabaya, baik putra maupun putri.

Sudah banyak Kejuaraan yang masuk menjadi kalender PB. PERSETASI untuk kejuaraan Nasional, yaitu : Pekan Olahraga Nasional (PON), Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS), Kejuaraan Nasional Yunior, Kejuaraan nasional Senior, Kejuaraan Nasional wanita, Kejuaraan Nasional Antar klub, dan kejuaraan Antar Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia.

Sejarah BaseBall

Sejarah Baseball

Sangat sedikit yang diketahui tentang asal-usul bisbol. Pertanyaan telah menjadi subyek perdebatan dan kontroversi selama lebih dari 100 tahun. Baseball (dan softball), serta modern lainnya kelelawar, bola dan menjalankan permainan, kriket dan kasti, dikembangkan dari awal permainan rakyat.
Banyak dari pertandingan sebelumnya mirip satu sama lain, tapi pasti ada yang lokal, regional dan nasional variasi, baik dalam bagaimana mereka bermain dan apa yang mereka disebut: nama termasuk “stoolball”, “racun bola”, dan “tujuan bola” . Beberapa rincian tentang bagaimana permainan modern berkembang dari permainan rakyat sebelumnya diketahui. Sebagian orang berpendapat bahwa berbagai permainan rakyat menghasilkan sebuah kota yang disebut permainan bola, dari yang bisbol akhirnya lahir.
Referensi awal Bisbol
Eksplisit pertama muncul referensi ke bisbol datang dari Inggris. Dikenal paling awal menyebutkan dari olahraga adalah dalam publikasi 1744, A Little Pretty Pocket-Book oleh John Newbery. Ini berisi ilustrasi memotong kayu-anak laki-laki bermain “baseball” (menunjukkan yang serupa set-up untuk permainan modern) dan sebuah deskripsi dgn bunyi yg disesuaikan olahraga. Juga, surat Inggris berasal dari 1748 oleh Lady Hervey menggambarkan bagaimana kemudian Prince of Wales mengalihkan waktu untuk bermain bisbol. Para penulis Inggris Jane Austen secara spesifik menyebut permainan bisbol di novelnya, Northanger Abbey, yang dimainkan oleh para protagonis, Catherine Moreland. Buku ini pertama kali ditulis pada tahun 1798 dan direvisi hingga publikasi pada tahun 1803.
Origins of Stoolball:
1) Dalam stoolball, yang dikembangkan oleh abad ke-11, satu pemain melempar bola ke sasaran, sementara pemain lain membela target. Stob-bola dan bola itu menyelundup-pertandingan regional mirip dengan stoolball.
Dalam stob bola dan bola menyelundup target mungkin sebuah tunggul pohon, karena keduanya “stob” dan “menyelundup” berarti tunggul di beberapa dialek. ( “Stow” dapat juga merujuk kepada jenis frame yang digunakan dalam pertambangan). Apa target awalnya ada di stoolball belum pasti. Ini bisa menjadi tunggul, karena “bangku” dalam dialek Sussex tua berarti tunggul.
2) Menurut salah satu legenda, milkmaids bermain stoolball sambil menunggu suami mereka kembali dari ladang. Teori lain adalah bahwa stoolball dikembangkan sebagai permainan yang dimainkan setelah menghadiri layanan gereja, dalam hal ini sasaran itu mungkin sebuah bangku gereja.
Awalnya, bangku ini dipertahankan dengan tangan telanjang. Kemudian, kelelawar sejenis digunakan (stoolball modern, seperti kelelawar yang sangat berat ping-pong dayung digunakan).
Jelas variasi regional:
Ada beberapa versi stoolball. Dalam versi awal, benda itu terutama untuk mempertahankan bangku. Berhasil mempertahankan bangku dihitung untuk satu titik, dan adonan keluar jika bola menghantam bangku. Ada berjalan terlibat. Versi lain yang terlibat stoolball menjalankan antara dua bangku, dan penilaian adalah serupa dengan skor dalam kriket. Dalam versi lain lagi mungkin ada beberapa bangku, dan titik diberi skor dengan menjalankan di sekitar mereka seperti dalam bisbol.
Karena berbagai versi stoolball, dan karena itu tidak hanya dimainkan di Inggris, tetapi juga di Amerika kolonial, stoolball dianggap oleh banyak orang telah menjadi dasar tidak hanya kriket, tapi keduanya bisbol dan kasti juga.
Cricket
Sejarah kriket sebelum 1650 adalah sesuatu yang misteri. Games diyakini mirip dengan kriket telah dikembangkan oleh abad ke-13. Ada sebuah permainan yang disebut “creag”, dan permainan lain, Handyn dan Handoute (Tangan Di dan Hands Out), yang dibuat ilegal tahun 1477 oleh Raja Edward IV, yang menganggap permainan kekanak-kanakan, dan gangguan wajib latihan panahan.
Referensi ke permainan sebenarnya disebut “jangkrik” muncul sekitar tahun 1550. Hal ini diyakini bahwa kata kriket didasarkan baik pada kata cric, yang berarti tongkat yang bengkok mungkin seorang gembala’s bajingan (bentuk awal kriket menggunakan kelelawar agak melengkung seperti tongkat hoki), atau pada kata Flemish “krickstoel”, yang mengacu untuk sebuah bangku di atas mana yang berlutut di gereja.
Ada setidaknya satu resmi Cricket Club terbuka untuk keanggotaan, didirikan pada tahun 1846 di Amerika Serikat di New York. Namun tampaknya popularitas olahraga berkurang selama perang sipil Amerika Serikat, untuk yang bisbol menjadi olahraga yang lebih populer.
Awal bisbol
Sebuah permainan yang disebut “dasar-bola” telah berkembang di Inggris pada awal abad ke-18, dan itu terus disebut “baseball” sampai setelah 1800. Disebutkan dalam sebuah buku yang diterbitkan pada 1744 yang disebut Little Pretty Pocket-Book. Seperti halnya dengan semua permainan rakyat, ada banyak variasi. Serupa dimainkan di Amerika jauh sebelum 1800.
Aturan untuk “baseball” muncul pada 1796, dalam sebuah buku Jerman oleh Johann Guts Muths, yang disebut permainan “basis-bola Inggris”. Dalam permainan yang digambarkan oleh Guts Muths, jumlah pangkalan bervariasi dengan jumlah pemain, dan satu keluar pensiun seluruh sisi.
Dalam Northanger Abbey (ditulis 1798), Jane Austen wrote (penekanan ditambahkan): (Catherine) lebih suka kriket, pangkal bola, menunggang kuda, dan berlari tentang negara, pada usia empat belas, untuk buku-buku.
Pada tahun 2004, sejarawan John Thorn menemukan mengacu pada peraturan yang melarang siapa pun dari bermain “baseball” dalam 80 meter dari rumah pertemuan baru di Pittsfield, Massachusetts. Seorang pustakawan menemukan sebenarnya oleh-hukum di perpustakaan Athenaeum Berkshire, dan usia diverifikasi oleh para peneliti di Pusat Konservasi Seni Williamstown.
Jika otentik dan jika benar-benar merujuk pada versi yang dapat dikenali dari permainan modern, dari 1.791 dokumen, akan, pada 2004, yang dikenal paling awal referensi ke permainan di Amerika.
Apakah Abner Doubleday adakan bisbol?
Bertentangan dengan sekali dipromosikan secara luas teori yang diciptakan Abner Doubleday bisbol (mungkin pada tahun 1839), tidak ada bukti bahwa dia lain daripada kesaksian satu orang dekade setelah fakta. Doubleday, pada kenyataannya, tidak pernah mengklaim bahwa ia melakukannya. Legenda Doubleday penemuan itu sendiri penemuan Al Spalding, seorang mantan bintang pitcher yang telah menjadi produsen barang-barang olahraga. Sepanjang paruh kedua abad ke-19, perdebatan mengamuk atas asal-usul bisbol. Untuk mengakhiri perdebatan dan spekulasi, Spalding panel yang diselenggarakan pada tahun 1907. Panel terdiri dari Spalding, dua Senator Amerika Serikat (salah satu mantan presiden Liga Nasional), dua mantan presiden Liga Nasional, dan dua lainnya bintang mantan pengusaha menoleh barang olahraga (George Wright dan Alfred Reach). Laporan akhir mensyaratkan tiga bagian: sebuah ringkasan yang ditulis oleh Spalding dari temuan panel, surat oleh John M. Ward mendukung panel, dan mempunyai pendapat berbeda oleh Henry Chadwick. Metode penelitian itu, paling banter, meragukan. Bukan sejarah Spalding itu setelah, tapi cerita yang sempurna: bisbol ditemukan di sebuah desa kuno kota yang asing dan kurang memiliki kekurangan industri oleh seorang pemuda yang kemudian lulus West Point, dan menjadi pahlawan dalam Perang Meksiko-Amerika , Perang Saudara, dan dalam perang melawan India.
Ringkasan Spalding menyimpulkan bahwa baseball telah diciptakan oleh Doubleday di Cooperstown, New York pada tahun 1839; yang Doubleday telah menemukan kata bisbol, merancang berlian, menunjukkan posisi penangkap, menuliskan aturan-aturan dan peraturan lapangan. Namun, tidak ada catatan tertulis dari 1839 atau 1840-an pernah ditemukan untuk membuktikan klaim ini juga tidak Doubleday bisa dipertanyakan, karena ia telah meninggal pada tahun 1893. Sumber utama untuk kesimpulan panel adalah kesaksian 1907 Abner Graves, lima tahun Cooperstown penduduk pada tahun 1839. Kuburan, bagaimanapun, tidak pernah disebutkan berlian, posisi atau aturan penulisan. Graves ‘keandalan sebagai saksi dipertanyakan karena ia kemudian dinyatakan bersalah membunuh istri dan menghabiskan hari-hari terakhir di rumah sakit jiwa untuk kriminal gila. Untuk lebih awan temuan panel, Doubleday tidak di Cooperstown pada tahun 1839. Dia terdaftar di West Point dan tidak ada catatan dari setiap meninggalkan waktu. AG Mills, seorang teman seumur hidup Doubleday’s, belum pernah mendengar menyebutkan Doubleday menciptakan bisbol.
Pada kematiannya, Doubleday pasokan meninggalkan banyak surat dan kertas-kertas, tidak ada yang menggambarkan bisbol, atau memberikan saran yang Doubleday menganggap dirinya seorang tokoh yang menonjol dalam evolusi permainan. Sebuah artikel bebas tentang Doubleday diterbitkan pada tahun 1911 tidak menyebutkan permainan.
Seperti dicatat di tempat lain dalam teks, versi aturan bisbol sejak ditemukan dalam publikasi yang secara signifikan mendahului penemuan yang dituduhkan pada tahun 1839.
Jeff Idelson dari Baseball Hall of Fame di Cooperstown, New York telah menyatakan, “Bisbol tidak benar-benar lahir di mana pun,” yang berarti bahwa evolusi permainan itu panjang dan terus-menerus dan tidak jelas, dapat diidentifikasi asal-usul tunggal.